
Rebranding bukan keputusan yang perlu bisnis ambil hanya karena sedang mengikuti tren. Logo lama yang terasa membosankan juga bukan alasan yang cukup.
Bisnis perlu mempertimbangkan rebranding ketika muncul gap antara brand saat ini dan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Berikut beberapa tanda yang biasanya muncul ketika bisnis sudah waktunya mempertimbangkan rebranding, bukan sekadar penyegaran visual.
Audiens Bisnis Anda Sudah Berubah
Bisnis yang awalnya menyasar anak muda bisa saja menarik audiens dengan demografi berbeda dalam dua atau tiga tahun. Preferensi mereka ikut berubah. Cara mereka mengambil keputusan pembelian pun bisa berbeda.
Kalau brand masih menggunakan gaya komunikasi lama, pesan yang disampaikan bisa terasa tidak relevan. Audiens baru mungkin merasa brand ini bukan untuk mereka. Sementara itu, audiens lama bisa bertanya-tanya melihat perubahan arah brand.
Ketika audiens berubah, brand juga perlu mengevaluasi cara mereka berbicara kepada pasar.
Strategi Bisnis Sudah Bergeser, Tapi Brand-nya Masih yang Lama
Sebuah bisnis bisa saja mengubah model bisnisnya. Misalnya, dari B2C menjadi B2B. Namun, banyak bisnis lupa menyesuaikan brand dengan perubahan tersebut.
Brand lama mungkin masih dirancang untuk audiens sebelumnya. Akibatnya, positioning dan komunikasi brand tidak lagi mencerminkan bisnis saat ini.
Perubahan juga bisa terjadi pada segmen harga, target pasar, atau kategori produk. Jika perubahan tersebut cukup besar, bisnis perlu mengevaluasi kembali identitas brand.
Brand yang tidak ikut berkembang akan semakin sulit menunjukkan apa yang sebenarnya bisnis tawarkan.
Industri Bergerak Cepat, Brand Anda Tertinggal
Industri yang berkembang pesat memaksa bisnis untuk terus beradaptasi. Kompetitor bisa datang dengan tampilan yang lebih modern dan komunikasi yang lebih relevan.
Jika brand Anda tidak ikut berkembang, audiens bisa melihatnya sebagai brand yang tertinggal. Padahal, produk atau layanan yang Anda tawarkan mungkin masih kompetitif.
Riset dari Geometry mencatat bahwa rebranding biasanya membutuhkan sekitar 10 hingga 20 persen dari total budget marketing tahunan perusahaan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa rebranding bukan keputusan kecil. Karena itu, bisnis perlu mengambil keputusan berdasarkan sinyal yang jelas, bukan sekadar dorongan sesaat.
Nokia, Contoh yang Tidak Boleh Ditiru
Nokia pernah menjadi penguasa pasar ponsel dunia. Namun, ketika era smartphone berbasis Android dan iOS mulai berkembang, Nokia gagal beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Kompetitor yang bergerak lebih cepat akhirnya merebut pasar yang sebelumnya Nokia kuasai.
BlackBerry mengalami nasib serupa. Mereka terlalu lama mempertahankan pendekatan yang sudah tidak sesuai dengan perubahan pasar.
Kedua contoh tersebut menunjukkan satu hal penting. Bisnis perlu mengenali perubahan pasar sebelum perubahan itu menjadi ancaman yang lebih besar.
Menunda penyesuaian brand ketika sinyalnya sudah jelas dapat membuat bisnis kehilangan relevansi dalam jangka panjang.
Sebelum Rebranding, Pastikan Ini Bukan Sekadar Ikut Tren
Tidak semua situasi membutuhkan rebranding total. Terkadang, bisnis hanya membutuhkan penyegaran visual.
Bisnis bisa memperbarui elemen tertentu tanpa mengubah keseluruhan identitas brand.
Sebelum memutuskan rebranding, bisnis perlu memastikan akar masalahnya terlebih dahulu. Apakah masalahnya memang berasal dari brand? Atau justru dari positioning, produk, atau cara bisnis berkomunikasi dengan pasar?
Rebranding tanpa pemahaman yang jelas tentang akar masalah bisa menimbulkan masalah baru. Audiens lama mungkin merasa asing dengan brand yang baru. Di sisi lain, masalah utama bisnis belum tentu ikut terselesaikan.
Karena itu, jangan melakukan rebranding hanya karena brand lama terlihat membosankan atau kompetitor terlihat lebih modern.
Pastikan ada alasan bisnis yang jelas di balik keputusan tersebut.
Kesimpulan
Tanda paling jelas bahwa sebuah bisnis butuh rebranding bukan soal bosan dengan tampilan lama, tapi soal adanya gap nyata antara brand saat ini dengan audiens, strategi, atau kecepatan industri yang terus bergerak. Nokia dan Blackberry membuktikan bahwa menunda penyesuaian brand, ketika tandanya sudah jelas, punya harga yang mahal.
Kalau ingin memahami lebih jauh perbedaan mendasar antara logo dan branding secara keseluruhan, artikel Branding dan Logo Itu Beda, Ini Penjelasannya membahasnya lebih detail. Sementara artikel Branding Bukan Pekerjaan Ketika Bisnis Sudah Besar membahas kenapa branding perlu tim jaga terus-menerus, termasuk saat kondisi bisnis mulai berubah.
Sebagai referensi tambahan, Geometry membahas tanda-tanda bisnis butuh rebranding, lengkap dengan estimasi biaya dan pertimbangan strategisnya.


