resign untuk bangun agensi dan menyusun struktur sendiri

Saya Resign dari Kantor untuk Bangun Agensi, Ini yang Tidak Ada di Nasihat Bisnis

resign untuk bangun agensi dan menyusun struktur sendiri

Resign untuk bangun agensi butuh lebih dari modal dan skill. Ini tiga hal yang nasihat bisnis hampir selalu lewatkan, dari pengalaman sendiri.

Hari pertama tanpa kantor, saya bangun jam tujuh. Tidak ada yang menunggu, tidak ada yang bertanya saya sedang mengerjakan apa.

Secara daftar persiapan, semuanya sudah terpenuhi. Tabungan cukup untuk beberapa bulan, keterampilan sudah terkumpul dari pengalaman kerja, dan dua calon klien sudah sempat mengobrol sebelum saya mengajukan pengunduran diri.

Jam sebelas pagi, saya masih duduk di depan laptop tanpa tahu mana yang harus saya kerjakan lebih dulu. Bukan karena tidak ada pekerjaan. Justru sebaliknya, semuanya terasa sama pentingnya, dan tidak ada siapa pun yang akan menegur kalau saya memilih yang salah.

Nasihat Bisnis Menyiapkan Saya untuk Masalah yang Salah

Daftar itu benar, dan saya memang menjalankan sebagian besarnya. Masalahnya, seluruh daftar tersebut menyiapkan saya untuk kekurangan uang. Yang pertama runtuh justru bukan keuangan.

Keyakinan yang perlu saya bongkar saat itu sederhana: kalau tabungan cukup dan kemampuan memadai, sisanya tinggal soal kerja keras. Ternyata kerja keras butuh satu hal yang dulu saya terima tanpa pernah menyadarinya.

Yang Hilang Bukan Penghasilan, Melainkan Struktur

Satu hal yang paling saya rasakan di bulan pertama: yang paling berat setelah resign bukan kehilangan penghasilan, melainkan kehilangan struktur yang dulu kantor berikan secara gratis.

Penghasilan punya solusi yang jelas, yaitu mencari klien. Struktur tidak punya solusi yang jelas, karena kebanyakan orang tidak pernah sadar sedang memakainya.

Tiga Biaya yang Tidak Masuk Hitungan

Pertama, struktur waktu. Kantor memberi jam masuk, tenggat, dan urutan prioritas tanpa saya perlu memikirkannya. Begitu semua itu hilang, saya harus membuat keputusan prioritas sendiri setiap pagi, di saat energi mental paling mahal. Hari hari pertama habis bukan untuk bekerja, tapi untuk memutuskan harus bekerja apa.

Kedua, umpan balik. Di kantor selalu ada orang yang bilang bagian ini kurang, atau pendekatan ini keliru. Sendirian, satu satunya penilai hasil kerja saya adalah selera saya sendiri. Klien memang memberi umpan balik, tapi mereka menilai hasil akhir, bukan cara saya bekerja. Celah antara keduanya cukup lebar, dan di situlah kebiasaan buruk tumbuh tanpa ada yang mengoreksi.

Ketiga, identitas. Jabatan menjelaskan siapa kita dalam satu kalimat, dan orang langsung paham. Kalimat “sedang bangun agensi sendiri” terdengar persis sama, baik dari orang yang sudah punya sepuluh klien maupun dari orang yang belum punya satu pun. Saya butuh waktu cukup lama untuk berhenti merasa perlu membuktikan kalimat itu di setiap percakapan.

Ketiga hal ini tidak muncul di nasihat mana pun karena sifatnya bukan persiapan, melainkan akibat. Orang baru merasakannya setelah keputusannya terjadi.

Yang Akhirnya Menolong

Solusinya ternyata bukan motivasi, melainkan sesuatu yang jauh lebih membosankan: membuat ulang struktur yang dulu kantor sediakan.

Jam kerja yang saya tetapkan sendiri dan saya patuhi meski tidak ada yang mengawasi. Satu orang di luar bisnis yang bersedia menilai cara kerja saya, bukan hanya hasilnya. Lalu catatan mingguan berisi apa yang berjalan dan apa yang tidak, supaya ada yang bisa saya evaluasi selain perasaan.

Tidak ada satu pun dari ketiganya yang terdengar seperti nasihat bisnis. Namun ketiganya yang membuat bulan ketiga terasa jauh lebih waras dibanding bulan pertama.

Cek Sekarang: Tes Dua Minggu Sebelum Resign

Untuk Anda yang sedang mempertimbangkan langkah serupa, ada cara menguji kesiapan tanpa perlu mengambil risikonya lebih dulu.

Selama dua minggu, dan ini Anda lakukan sambil tetap bekerja, susun sendiri prioritas harian Anda setiap pagi tanpa menunggu siapa pun memberi arahan. Akhir minggu, nilai hasil kerja Anda sendiri tanpa masukan dari orang lain. Lalu jawab tiga pertanyaan.

Apakah Anda tetap produktif ketika tidak ada yang menagih? Apakah penilaian Anda terhadap pekerjaan sendiri masih bisa Anda percaya? Lalu, siapa orang di luar kantor yang bersedia mengoreksi cara kerja Anda secara jujur?

Kalau jawaban ketiganya belum ada, bagian itu yang perlu Anda siapkan, bukan tabungannya saja.

Dan kalau Anda sudah melewati fase itu lalu kebutuhan kreatif mulai menumpuk lebih cepat dari kapasitas Anda sendiri, Creatipous terbuka untuk diajak berdiskusi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *